Ujung Genteng, Road to The Lost Paradise : Part 5 , Going Back Home

Paginya (subuh), aku terbangun, masih terdengar suara gemericik air hujan, tadinya setelah sholat subuh mau siap-siap buat Sholat Ied di desa itu, tapi.. karena dirasa cuaca tidak bersahabat dan bakalan lama, maka akupun tidur kembali. Begitu bangun, hari udah agak siang, kira-kira jam 8, tapi langit juga masih mendung dan sedikit gerimis. Berhubung rencananya pulangnya mau mampir-mampir, aku pun bergegas mandi dan packing siap-siap untuk perjalanan pulang. Meski langit mendung, tapi sebelum berangkat pulang, aku mendapatkan salam perpisahaan yang cukup menarik.. pelangi.. sesuatu yang sudah lama tak kulihat, tanpa buang waktu kuambil kamera dan kuabadikan moment itu meskipun tidak terlalu jelas.

img_2736 img_2735

Read the rest of this entry »

Ujung Genteng , Road to The Lost Paradise : Part 4 , Private Beach Bathing

Pernah membayangkan punya pantai pribadi? Hmm.. tampaknya menyenangkan, bisa bermain-main sepuasnya tanpa ada yang mengganggu, bahkan bisa melakukan hal-hal yang iya-iya (bikin istana pasir, berjemur, dsb). Nah, di Ujung Genteng ini, meski bukan pantai pribadi, tapi rasanya udah kayak punya sendiri. Sehabis menyusuri goa,kami langsung meluncur menuju pantai sunset (pantai di depan tempat penginapan kami), sayangnya di tengah perjalanan langit agak mendung.. kami sudah habis harapan untuk bisa menikmati sunset di Ujung Genteng.

Namun tampaknya keberuntungan berpihak kepada kami, sesmpainya di pinggir pantai, berangsur-angsur langit mulai cerah, meski matahari bulat tetap ga keliatan, tapi setidaknya kami masih bisa menikmati langit yang memerah seiring terbenamnya matahari. Untuk melengkapi suasana, Aku , Igun , dan Wawan sepakat untuk berendam sambil menikmati langit yang terus memerah. Agar lebih nikmat, kami mencari tempat yang lebih sepi, kamipun menyusuri pantai menuju arah utara hingga tampak tidak ada orang lagi yang berada di pinggir pantai tsb.

img_2733

Read the rest of this entry »

Ujung Genteng , Road to The Lost Paradise : Part 3 , Journey to The Inside of The Earth

Dari lokasi curug cikaso, goa yang kami tuju lokasinya tidak terlalu jauh, hanya memakan perjalanan sekitar 15 menit. Setelah melintasi jalanan berbatu (oh iya, sebagian besar tempat wisata dicapai dengan melintasi jalanan tanah dan berbatu, saranku sih.. bawa kendaraan offroad alias 4×4, bakalan lebih seru). Kali ini tempatnya lebih ga jelas lagi, ga ada retribusi atau tempat parkir khusus, bahkan untuk parkir pun harus nebeng di lahan penduduk. Goa yang kami tuju namanya Goa Gunung Sunggig, lagi-lagi namanya tampaknya diambil dari nama daerahnya , mungkin nama desa. Goa ini sedikit berbeda dengan goa-goa yang umum dikunjungi, jenis goanya sih normal, alias masih horizontal, cuman yang jadi rada unik goa tersebut semacam goa milik pribadi. heh, pribadi?

img_2700

Read the rest of this entry »

Ujung Genteng, Road to The Lost Paradise : Part2 , Legend of The Waterfall

Saat itu.. rasanya begitu kabur.. serba ga jelas.. rasanya seperti diantara kenyataan dan mimpi.. cahaya-cahaya berkilauan yang melintas.. suara-suara bising orang tertawa.. kadang keras.. kadang pelan serasa di kejauhan.. dan kadang suasana begitu hening.. Entah sudah berapa lama saat itu aku tertidur selama perjalanan, hingga suatu ketika mobil berhenti, salah seorang diantara kami turun untuk kencing di pinggir jalan, akupun bangun meski belum sepenuhnya utuh tersadar. Waktu itu, aku disuruh turun untuk melihat tulisan di pal(tanda di pinggir jalan), langit masih cukup gelap meski tampak menjelang subuh, jalananya begitu sepi, berkelok-kelok dengan kondisi jalan banyak berlubang. Dengan sedikit terhuyung-huyung, aku berjalan menuju pal itu, aku tidak terlalu ingat angka yang tertera di pal tersebut, aku hanya ingat bahwa kami menyimpulkan berada di tengah-tengah antara kota Pelabuhan Ratu dan Kiara Dua (kami mengarah ke Kiara Dua)

Igun img_2488

Read the rest of this entry »

Ujung Genteng, Road to The Lost Paradise : Part 1, Dealing with Mr.Black

Do you know anything about heaven? paradise? Well.. I’m not really sure, tapi satu hal yang aku pahami, bahwa surga itu terkait dengan sesuatu yang indah, nikmat, mempesona, dan semacamnya. Dan menurutku, banyak hal-hal di dunia ini yang layak disebut surga.. ya.. setidaknya surga dunia. I love travelling, meski aku punya penyakit yang namanya navigation disability (penyakit karanganku sendiri, gara2 susah ngapalin jalan). Terkait dengan jalan-jalan, ada satu hal yang aneh yang menjangkit komunitasku, kami ga bisa merencanakan suatu perjalanan jauh-jauh hari sebelumnya, alias harus direncanakan dadakan supaya terlaksana.

Sekitar sebulan lalu, dalam rangka merayakan ulang tahunnya, Maya ngajakin para mahasiswa ga jelas (aku, Igun, Tiko, Wawan) dan para pekerja stress (Bayek,Lina) yang suka diajakin jalan-jalan ga jelas. Salah satu rencana brilian waktu itu adalah termasuk belum dapet rentalan mobil pas hari H nya. Berhubung waktu itu cuman aku makhluk Bandung yang sedang berada di tempat, aku kebagian cari rentalan mobil dengan target tanpa sopir dan bisa langsung dibawa malam itu juga. Sampailah diriku pada petualangan bertransaksi dengan Mr.Black

img_2504 Read the rest of this entry »

Nobody is Innocence

People’s behaviors are guided by a sequence of need, every human possess unique quality that enable them to make independent choice, thus giving them control of their destiny – Abraham Maslow-

Kata-kata ini sebenernya aku dapet dari slide materi kuliah Manajemen Proyek dan Perubahan yang semalem aku pelajari, teori ini sebenernya terkait dengan Human Resource Management dimana needs yang dimaksudkan diantaranya adalah psikologi, keamanan, sosial, gengsi, dan aktualisasi diri. Tapi bukan masalah HRM ataupun Manajemen Proyek yang sebenarnya ingin aku tuliskan kali ini, mm.. anggap saja berupa pendapat atau pemikiran liar mengenai perilaku manusia. Read the rest of this entry »

Cook Battle : New Era of Ingridient

Terus terang orang tuaku berasal dari desa, termasuk suku Jawa asli (tepatnya Jawa Timur), lahir di desa dan gedhe di desa, dan tentu saja selera masakan dan masakannya ala Jawa. Bahkan, bapakku termasuk orang yang cukup kolot terhadap suatu masakan, terutama masakan Jawa asli, maksudnya.. bapakku sulit menerima suatu masakan yang dimodi atau dikreasikan diluar kewajarannya. Misalnya yang namanya sayur lodeh itu ya isinya ada terong, kacang, kacang panjang, daun melinjo, dan tempe..bisa dikurangi atau lengkap saja, tapi jangan ditambah bahan aneh2 misal baso atau bahkan daging sekalipun. Walhasil masakan Ibuku cenderung seperti itu-itu saja, jarang mencoba mengkreasikan suatu masakan dengan jenis bahan baru, paling2 kalo lagi masak 2 jenis masakan (1 normal buat bapak, yang satu nyoba2 buat anak2) Read the rest of this entry »

Posted in experience. Tags: . 4 Comments »

Are you ready to married?

Akhir-akhir ini banyak teman-temanku yang memutuskan masa lajangnya menuju kehidupan baru. Wajar sih, udah pada lulus kuliah, punya kerjaan, dan umur mendekati 25. Meski bagi sebagian kelompok masyarakat umur segitu masih belum mencapai masa kritis, namun di lingkungan sosialku umur2 segini sudah banyak yang menganggap masa-masa ’sebaiknya’ atau ’sesegera mungkin’ untuk menikah. Tidak ada yang salah dalam pandangan atau keputusan ini, fisik sudah matang, pekerjaan sudah ada, sekolah juga udah kelar, secara umum sudah siap lah (kalo mental tergantung masing-masing)

Read the rest of this entry »

Posted in opini. 7 Comments »

From Food Gathering to Food Producing : cooking for survival

Gara-gara divonis mengalami hyper cholesterol, mau ga mau aku harus menjaga pola makanku, kalo dirumah sih.. ga masalah, semuanya udah tersedia tanpa harus pikir panjang. Tapi, karena sekarang aku sudah kembali ke kehidupanku semula, alias jadi anak kost.. ya.. terpaksa harus putar otak. Pilihannya.. kalau tetap melanjutkan kebiasaan seperti sebelumnya, alias jajan, sudah bisa dipastikan kolesterol akan susah dikendalikan, habis mau gimana, yang namanya jajanan kelas mahasiswa.. minyak dipake berkali-kali, bahan belum tentu terjamin, udah gitu bumbu2 macam MSG bakal susah diminamilisir. Pilihan kedua.. masak sendiri. Read the rest of this entry »

Catatan Akhir Liburan, final part : The Last Supper

The Last Supper.. terlalu di dramatisir kayaknya, tapi.. emang semalam itulah yang terjadi, perjamuan makan malam terakhir bersama kawan-kawan lama selama liburan ini. Tak terasa, sudah 11 minggu aku berada jogja, cukup lama.. mungkin waktu yang diimpi-impikan bagi para perantau, terutama yang jauh-jauh. Alhamdulillah, karena masih sekolah.. yang kayak gini masih memungkinkan.

Tapi lebih dari itu, hal yang membuatku merasa sangat puas selama liburan ini adalah.. aku bertemu banyak kawan-kawan lama, dan tak ketinggalan juga kawan-kawan baru. Maklum aja, begitu sampai di tanah kelahiranku ini, sederetan undangan pernikahan sudah mengantri, kalo ga salah ada sekitar 7 atau 8 undangan pernikahan, baik dari temen SMU maupun kuliah, dan dari kesemua itu, 6 diantaranya aku sempatkan hadir (1 karena undangannya ke jakarta, 1 lagi ga gitu kenal, ga dapet undangan, dan ga dipublish di milis).

Read the rest of this entry »