From Food Gathering to Food Producing : cooking for survival

Gara-gara divonis mengalami hyper cholesterol, mau ga mau aku harus menjaga pola makanku, kalo dirumah sih.. ga masalah, semuanya udah tersedia tanpa harus pikir panjang. Tapi, karena sekarang aku sudah kembali ke kehidupanku semula, alias jadi anak kost.. ya.. terpaksa harus putar otak. Pilihannya.. kalau tetap melanjutkan kebiasaan seperti sebelumnya, alias jajan, sudah bisa dipastikan kolesterol akan susah dikendalikan, habis mau gimana, yang namanya jajanan kelas mahasiswa.. minyak dipake berkali-kali, bahan belum tentu terjamin, udah gitu bumbu2 macam MSG bakal susah diminamilisir. Pilihan kedua.. masak sendiri.

Terus terang, kalau dirumah kadang aku suka masak sendiri kalau lagi laper dan ga ada makanan, tapi itu juga cuman seputar mie, telor, dan nasi goreng.. emang sih.. meski nama masakan itu2 aja, cuman aku suka experiment mencampur bumbu2 atau bahan2 yang tersedia di kulkas. Nah, tapi untuk kasus yang sekarang, ceritanya lain, alias aku harus masak buat makanan utama, mulai dari nasi, sayur, hingga lauk. Kalau nasi.. dengan adanya teknologi yang dinamakan rice cooker dan magic jar, hal tersebut udah bukan masalah, paling masalahnya adalah ngukur air biar hasilnya ga terlalu lembek atau terlalu keras, untungnya pekerjaan ini juga udah ga asing buatku, habisnya ortu suka nyuruh masak nasi sendiri kalo lagi ditinggal sendirian dirumah.

Misi pertama dalam project masak untuk bertahan hidup ini adalah cari beras.. sialnya aku ga pernah beli beras sendiri, jadi ga ngerti beras apa yang harus dibeli dan biasanya harganya berapaan. Awalnya sih.. mo beli beras di supermarket yang udah di packing bagus, e.. ternyata mahal juga, rata2 diatas 35ribu per 5 kilo, terpaksa deh memberanikan diri beli di toko beras. Awalnya sih.. sok-sok ngerti beras gitu, dateng sambil membaui beras, sok-sok memeriksa kualitas sambil nanya2 harga, tapi.. akhirnya tanya juga, beras yang enak dan wangi apaan mas? he..he.. :D .Ternyata menurut penjualnya yang wangi dan enak itu dua jenis yang beda, katanya yang wangi butuh air dikit, karenanya sifatnya lengket, sedang yang ga wangi tapi enak airnya biasa. Karena teringat ibu yang suka nyampur beras mahal dengan beras sedang, akhirnya aku beli 2 jenis beras tersebut dengan konfigurasi 2(wangi) + 3(enak), dan menurut penjualnya, teknik mencampur emang bisa memberikan hasil yang optimal. Btw.. baru tau kalo beras sekarang mahal, nyampe 6000 lebih per kilo-nya (kualitas sedang), kalo yang murah sih.. ada yang 5ribu-an

Setelah beli beras.. misi selanjutnya adalah beli peralatan masak dan bahan buat masak, karena males kalo harus nanya2 di toko-toko biasa, akhirnya super market jadi pilihan yang tepat (kalo di supermarket kan ga harus nanya2, tinggal keliling cari barangnya, trus liat harganya). Untuk startup project ini, aku membeli sebuah wajan teflon besar, cobek kayu, kotak makanan, bawang putih, bawang merah, saus, kecap, merica, ketumbar, sayuran paket,telur dan tempe plastik.

Project memasak yang pertama adalah yang paling gampang, yaitu telur dadar dan tempe goreng. Meski kayaknya bikin tempe goreng itu gampang, ternyata bikin bumbunya juga ga segampang kelihatannya, takaran yang kurang ternyata menyebabkan bumbu menjadi tidak terasa, dibutuhkan sekitar 3-4 experiment untuk mendapatkan takaran yang cocok. Karena hari pertama ga masak sayur sama sekali, hari kedua kuputuskan untuk membuat sayur.. kebetulan di deket kos ada pasar, meski kecil, tapi lumayan bisa diandalakan untuk masak sehari-hari. Project sayur pertama jatuh pada tumis kangkung, kebetulan di pasar banyak yang jual, jadi.. langsung hajar saja, tanpa menawar langsung kubeli seikat kangkung segar. Sampai sekarang aku belum pernah menawar dalam membeli bahan2 makanan tersebut, toh udah murah menurutku, habis gitu juga daripada ngasih duit ama orang di jalan, mending ngasih untung lebih buat pedagang kecil

Tumis kangkung berjalan lancar, rasanya menurutku juga pas, dengan hanya bersenjatakan bawang merah, bawang putih, garam dan gula, keseimbangan rasa sudah dapat tercapai. Sedikit tips, perpaduan antara garam dan gula pada dasarnya mampu menggantikan peran penyedap sintetis yang kurang sehat, ibuku suka bilang, kalau masak masakan yang cenderung asin, tambahkan sedikit gula supaya rasanya bulet, begitu juga kalau rasanya manis, tambahkan sedikit garam supaya manisnya mantab.. intinya adalah prinsip keseimbangan rasa

Hari berikutnya, aku mengincar masakan berbau buncis.. berhubung ga ada buncis yang dijual per ikat, akhirnya aku minta setengah kilo dengan harga 2500, ternyata setengah kilo itu isinya banyak sekali, bahkan udah dimasak beberapa kali masih belum habis juga. Tumis buncis berjalan cukup lancar, meski tampaknya aroma bawang putih masih terlalu kuat.

Selanjutnya project paling besar hingga saat ini adalah bikin sup ayam, karena ragu dengan higenitas ayam di pasar, aku memutuskan buat beli ayam di supermarket yang udah dipotong-potong, meski agak mahal.. tapi rasanya lebih yakin. Masak sup juga tidak terlalu sulit, intinya bikin kaldu dulu, habis itu kasih bumbu standar (bawang putih, gula, garam, ketumbar, merica), baru masukkan sayuranya. Untuk menambah aroma, jangan lupa pake sledri dan daun bawang.

Dari beberapa pengalaman memasak sebagai pemula, beberapa hal yang bisa disimpulkan adalah :

  • jangan membeli wajan teflon murah , baru beberapa kali lapisannya udah rusak
  • jangan membeli cobek kayu, meski ringan dan murah, tapi ga efektif, kalo udah terlanjur, sebaiknya kalau menghaluskan ketumbar atau merica, jangan dalam keadaan basah
  • buncis, wortel, dan kentang termasuk sayuran yang lama empuk, sebaiknya direbus dahulu sebelum sayuran yang mudah sekali empuk, seperti tomat, kobis, sawi, daun bawang
  • jangan tergiur beli tempe atau tahu di supermarket, karena supermarket cenderung tidak sekali habis, kadang barangnya agak lama, sehingga cepat membusuk
  • lebih enak beli sayuran segar di pasar, ketauan kalo udah lama atau baru, kalo di supermarket kadang ga ketauan, habisnya make freezer, begitu sampe rumah biasanya baru ketauan masih baru atau udah lama
  • jamur kuping termasuk bahan yang mudah menyerap bumbu, jangan terlalu banyak memberi bumbu pada bahan ini
  • jahe dan kencur termasuk bumbu yang aromanya sangat kuat dan mengalahkan aroma lain, sebaiknya jangan terlalu banyak memakai bumbu ini kecuali emang mau menonjolkan aroma bumbu tersebut
  • untuk masakan dengan sedikit air,seperti tumis, aroma bawang putih bisa menjadi sangat kuat, jangan terlalu banyak menggunakan bawang putih kalau tidak terlalu suka
  • perpaduan gula dan garam yang pas bisa menggantikan peran penyedap buatan

About this entry