Are you ready to married?

Akhir-akhir ini banyak teman-temanku yang memutuskan masa lajangnya menuju kehidupan baru. Wajar sih, udah pada lulus kuliah, punya kerjaan, dan umur mendekati 25. Meski bagi sebagian kelompok masyarakat umur segitu masih belum mencapai masa kritis, namun di lingkungan sosialku umur2 segini sudah banyak yang menganggap masa-masa ‘sebaiknya’ atau ‘sesegera mungkin’ untuk menikah. Tidak ada yang salah dalam pandangan atau keputusan ini, fisik sudah matang, pekerjaan sudah ada, sekolah juga udah kelar, secara umum sudah siap lah (kalo mental tergantung masing-masing)

Tapi ada satu hal yang menarik yang patut dicermati dari fenomena ini, beberapa temanku memutuskan untuk berada di dalam lokasi yang terpisah meski sudah resmi diperbolehkan jadi satu dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan(maksudnya semacam hubungan jarak jauh, tapi udah menikah, tapi bukan pisah.. pokoknya gitu deh), entah sementara atau dalam jangka waktu yang lama.  Salah seorang kawanku berkomentar kira-kira begini “aneh juga, udah nikah koq malah jauh-jauhan”, no offense to anyone, hanya ingin mencermati fenomena ini.

Terus terang role model-ku soal pernikahan hingga saat ini salah satunya masih ortuku. Menurut Ibuku, begitu menikah, beliau langsung pisah dari orang tua dan meninggalkan rumah, meski belum genap sebulan menikmati tidur dirumah (sebelumnya beberapa tahun sebelumnya tinggal di asrama bidan). Saat itu Ibuku sebagai salah satu dari segelintir orang di desanya yang bisa lulus dari sekolah bidan harus meninggalkan sesuatu yang mungkin bisa menjadi masa depan yang lebih baik (jaman segitu bidan desa umunya bakalan kaya), dan akhirnya memutuskan ikut suami dimana masa depan kerjaan masih belum jelas (hidup di kota yang belum dikenal, baru sedikit kenalan, belum punya rumah, jauh dari ortu, duit juga pas-pasan)

Intinya, dalam perjalanan pernikahan ortuku, ada satu komponen kesiapan yang secara eksplisit jarang dikemukakan orang lain, yaitu kesiapan untuk berubah atau menghadapi perubahan. So.. yang ingin aku sampaikan adalah, bahwa banyak orang yang tidak siap berubah ketika menikah, seperti.. enggan melepaskan pekerjaannya saat ini dan memilih terpisah dari suami/istrinya.. atau enggan meninggalkan rumah/kota kelahirannya dan memilih untuk tidak mengikuti suami/istri. Meski terkadang faktornya bukan keengganan, tapi masalah yang sulit dihindari seperti kontrak dan semacamnya, tapi itu juga menandakan bahwa perencanaan sebelumnya masih kurang matang (pas nikah ga ngitung faktor kontrak yang mengikat dsb)

Sekali lagi no offense to anyone, mungkin emang jamannya udah beda ama jaman bapak ibuku, mungkin kondisi hidup saat ini yang memaksa kita menjadi seperti ini, memaksa kita melakukan hal2 yang sebenernya mungkin ga kita maui. Mungkin salah satu komponen kesiapan yang perlu diwaspadai di zaman ini adalah kesiapan dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi beserta cara mengatasinya. Dan mungkin apa yang dilakukan beberapa teman2ku atau orang2 yang senasib hanya sekedar upaya untuk bertahan hidup di zaman yang makin kompleks ini.

for my brother yang barusan menikah hari ini : Once again, I think “congratulation” is the right word to say. Sori bro, kita mau ke ujung genteng dulu he..he.. Btw, moga2 imulai yang sekarang bisa jadi rejeki pernikahan kalian berdua… Amiin. (rejekiku juga he..he..)

;s.h.l.

siap-siap liburan ke ujung genteng (moga-moga ga batal)


About this entry