Ujung Genteng , Road to The Lost Paradise : Part 4 , Private Beach Bathing

Pernah membayangkan punya pantai pribadi? Hmm.. tampaknya menyenangkan, bisa bermain-main sepuasnya tanpa ada yang mengganggu, bahkan bisa melakukan hal-hal yang iya-iya (bikin istana pasir, berjemur, dsb). Nah, di Ujung Genteng ini, meski bukan pantai pribadi, tapi rasanya udah kayak punya sendiri. Sehabis menyusuri goa,kami langsung meluncur menuju pantai sunset (pantai di depan tempat penginapan kami), sayangnya di tengah perjalanan langit agak mendung.. kami sudah habis harapan untuk bisa menikmati sunset di Ujung Genteng.

Namun tampaknya keberuntungan berpihak kepada kami, sesmpainya di pinggir pantai, berangsur-angsur langit mulai cerah, meski matahari bulat tetap ga keliatan, tapi setidaknya kami masih bisa menikmati langit yang memerah seiring terbenamnya matahari. Untuk melengkapi suasana, Aku , Igun , dan Wawan sepakat untuk berendam sambil menikmati langit yang terus memerah. Agar lebih nikmat, kami mencari tempat yang lebih sepi, kamipun menyusuri pantai menuju arah utara hingga tampak tidak ada orang lagi yang berada di pinggir pantai tsb.

img_2733

Sambil menyelam minum air, tadinya aku mau sekalian belajar berenang, mumpung ga ada ombak di pantai itu (maksudnya ombaknya sangat kecil, jadi bisa dibilang ga ada ombak), sayangnya tubuhku tidak merespon positif (belakangan setelah konsultasi ama dokter, ada kemungkinan saraf reflekku di bagian pernafasan ada yang ga beres). Tak mau kehilangan moment, tak jadi berenang berendam pun jadi.. air yang hangat.. angin sepoi-sepoi .. suasana pantai yang sepi.. langit yang begitu luas dan merah.. rasanya.. begitu damai, apalagi ketika membaringkan badan hingga telinga tercelup (suara disekitar jadi hening) .. rasanya begitu damai, seperti berendam di bak mandi yang besar dengan pemandangan langit luas dan air yang hangat (sayangnya airnya asin).

img_2704 img_2721

Tak terasa, tampaknya terlalu asyik berndam, langitpun sudah mulai hitam semua, tampaknya sudah masuk waktu Isya’. Begitu badan dikeluarkan dari air.. brrr… ternyata dingin..he..he.. padahal kami tadi berjalan cukup jauh dari tempat penginapan. Malas berdingin ria dan tak kehabisan akal.. kami bertiga pun sepakat untuk berjalan di dalam air menyusuri pantai hingga sampai di pantai depan penginapan. Fuiih… capek juga rasanya jalan di air, setelah sampai di penginapan, kami bersantai ria di beranda penginapan, sambil menunggu antrian kamar mandi.

img_2734

Rencananya.. setelah mandi, kami akan cari makan, trus meneruskan wisata mengunjungi penyu yang sedang bertelur, kebetulan waktu itu lagi musimnya. Menurut keterangan , untuk mencapai lokasi, ga bisa menggunakan mobil biasa (butuh 4×4), solusinya naik motor(ojekyg dipatok 30-40ribu per orang) atau jalan kaki. Rencananya sih kami mau jalan kaki saja, toh bawa GPS, udah gitu katanya ga terlalu jauh dari penginapan, sekitar 5km aja. Setelah semuanya selesai mandi (ada yang ga mandi juga kayaknya), kami berangkat cari makan malam, pilihan tertuju pada menu ikan laut (soalnya dari tadi belum makan ikan, padahal lagi di laut). Ga banyak warung yang buka, (habisnya besok pagi merupakan hari raya Idul Adha, jadi nelayan pada libur ngelautnya), tapi untungnya ketemu satu warung ikan yang masih buka, kebetulan lagi bakar2 ikan.

Kebetulan saat itu lagi ga mood gara-gara capek dan ngantuk, jadi untuk menu aku serahkan ke temen-temen. Akhirnya.. kami mendapatkan menu spesial, kakap merah sebesar 2.5 kg.. hmm… kakap merah.. meski hanya dibakar biasa dan hanya bersambalkan kecap+cabe, rasanya benar-benar nikmat. Bukan karena lapar saja, tapi memang rasanya benar-benar enak.. dagingnya tebal.. manis.. dan tanpa tulang.. dihajar 7 orang pun rasanya sudah kekenyangan.. puas deh.. tapi harganya juga lumayan sih.. 160 ribu untuk kakap merah 2.5kg dibakar.. tapi ga rugi koq..

Habis dari makan, kami pun mulai berdebat soal wisata melihat penyu, tadinya mau langsung, tapi karena ada yang males ikut karena capek dan ngantuk.. akhirnya kami balik dulu ke pondokan. Begitu sampai sana dan melihat kasur… hmm.. tampaknya begitu menggoda, apalagi untuk badan yang sudah capek dan ngantuk.. ahh.. berbaring sebentar tampaknya ga ada salahnya.. sambil nunggu yang lain pada sholat dsb.. Eh.. ga taunya kebablasan.. begitu bangun, tampaknya malam udah cukup larut, yang lain juga udah pada KO, Maya yang paling semangat mau nonton pun.. kamarnya juga tertutup rapat tanpa suara.. udah gitu diluar ada suara gemericik.. gerimis kayaknya.. ya sudah.. tidur lagi saja.. batal sudah wisata menonton penyu kali itu


About this entry