Ujung Genteng, Road to The Lost Paradise : Part 5 , Going Back Home

Paginya (subuh), aku terbangun, masih terdengar suara gemericik air hujan, tadinya setelah sholat subuh mau siap-siap buat Sholat Ied di desa itu, tapi.. karena dirasa cuaca tidak bersahabat dan bakalan lama, maka akupun tidur kembali. Begitu bangun, hari udah agak siang, kira-kira jam 8, tapi langit juga masih mendung dan sedikit gerimis. Berhubung rencananya pulangnya mau mampir-mampir, aku pun bergegas mandi dan packing siap-siap untuk perjalanan pulang. Meski langit mendung, tapi sebelum berangkat pulang, aku mendapatkan salam perpisahaan yang cukup menarik.. pelangi.. sesuatu yang sudah lama tak kulihat, tanpa buang waktu kuambil kamera dan kuabadikan moment itu meskipun tidak terlalu jelas.

img_2736 img_2735

Sebelum meninggalkan Ujung Genteng, kami menyempatkan untuk mampir di monumen rudal, kebetulan dari kemaren kalo kemana-mana pasti ngelewatin monumen itu, cuman belum sempat mengunjungi. Menurut keterangannya, monumen itu didirikan oleh para angkatan laut, rudal yang dipajang pun benar-benar berasal dari komponen rudal asli (tentunya sudah tidak bisa meledak lagi). Setelah melakukan ritual potret bersama, kamipun melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini kami akan mengambil jalur yang melewati kota Pelabuhan Ratu.

img_2737

Karena mau menuju kota Pelabuhan Ratu, tentu saja kami pulang melalui jalur yang hampir sama dengan waktu kami berangkat, artinya kami melewati jalur pegunungan yang dipenuhi oleh kebun teh. Karena penasaran, kami berhenti di salah satu spot perkebunan teh untuk beristirahat (tentunya ada yang sambil buang air kecil) dan berfoto ria. Setelah cukup puas, perjalanan kembali dilanjutkan, sesampainya di kota Pelabuhan Ratu, kami menyempatkan diri untuk mampir di pantai yang kami lewati (mau ke pantai utamanya masih jauh, jadinya males). Karena hari sudah mulai siang, kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan dan langsung menuju Bogor (target pemberhentian berikutnya ke Puncak untuk mengembalikan sepupunya Tiko)

img_2738

Berhubung hari libur, jalanan begitu ramai dan cenderung macet, apalagi dekat-dekat Bogor. Sesampainya Bogor, Maya dan Bayek sepakat untuk turun dan langsung menuju Jakarta dari Bogor menggunakan kendaraan umum. Sesampainya di Bogor, di jalan menuju Puncak, kami harus berhenti sejenak, sekitar 1 jam untuk menunggu jalur yang sedang ditutup. Akhirnya pintu dibuka sekitar jam 6.30, dan tiba di Puncak sekitar jam 8.  Baru sekitar jam 10 kurang, kami sampai di Bandung dan langsung mengembalikan mobil sewaan kepada Mr.Black . Karena lapar dan merasa belum menikmati daging kambing di hari Idul Adha tersebut, akhirnya kami putar-putar mencari warung sate yang masih buka, dan sampailah kami di warung sate dekat stasiun Bandung (sebelah Hadori). Kira-kira aku nyampe kos jam 12an, dan langsung menuju tempat tidur….

Selesai sudah petualangan ke Ujung Genteng.. rasanya begitu puas.. kadang aku berfikir betapa indahnya bumi Indonesia ini, tapi banyak orang tidak menyadarinya, aku yakin masih banyak tempat-tempat yang ga begitu populer yang menarik untuk dikunjungi di pulau Jawa, apalagi di seluruh Indonesia. Coba kalo dikelola lebih baik.. ga perlu dibikin terlalu komersial dan kayak tempat wisata populer, biarkan saja tetap alami, tetap sepi (kalo tiba-tiba ramai, bakalan mempengaruhi kehidupan masyarakat disekitarnya), yang penting kalo ada wisatawan mau kesana.. ada cara yang pasti (ada peta, data,informasi, atau guide). Ah… 3 hari untuk selamanya..


About this entry