Ujung Genteng, Road to The Lost Paradise : Part2 , Legend of The Waterfall

Saat itu.. rasanya begitu kabur.. serba ga jelas.. rasanya seperti diantara kenyataan dan mimpi.. cahaya-cahaya berkilauan yang melintas.. suara-suara bising orang tertawa.. kadang keras.. kadang pelan serasa di kejauhan.. dan kadang suasana begitu hening.. Entah sudah berapa lama saat itu aku tertidur selama perjalanan, hingga suatu ketika mobil berhenti, salah seorang diantara kami turun untuk kencing di pinggir jalan, akupun bangun meski belum sepenuhnya utuh tersadar. Waktu itu, aku disuruh turun untuk melihat tulisan di pal(tanda di pinggir jalan), langit masih cukup gelap meski tampak menjelang subuh, jalananya begitu sepi, berkelok-kelok dengan kondisi jalan banyak berlubang. Dengan sedikit terhuyung-huyung, aku berjalan menuju pal itu, aku tidak terlalu ingat angka yang tertera di pal tersebut, aku hanya ingat bahwa kami menyimpulkan berada di tengah-tengah antara kota Pelabuhan Ratu dan Kiara Dua (kami mengarah ke Kiara Dua)

Igun img_2488

Setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan, sekitar 30menit perjalanan, subuh pun tiba, kebetulan tidak begitu lama kami menemukan sebuah masjid di pinggir jalan tersebut, kamipun berhenti untuk sholat subuh sambil beristirahat. Selang beberapa menit kemudian, masjid telah dipenuhi oleh sekelompok pengendara motor, tampaknya pasangan muda-mudi, mungkin dari Jakarta (kebanyakan ber-plat B), entah mau kemana. Setelah beristirahat hingga langit mulai terang, kamipun melanjutkan perjalanan kami, kali ini aku kebagian jadi sopir.

Berhubung langit sudah terang, pemandangan kanan kiri pun jadi tampak jelas. Ternyaata di daerah itu pemandangannya cukup indah, tampaknya kami melintasi kawasan perbukitan yang dipenuhi oleh perkebunan teh. Saking terpesonanya, hingga suatu ketika salah satu dari kami berujar “Gimana kalo kita berhenti disini saja, kan kita udah menempuh perjalanan jauh, toh disini pemandangannya udah bagus banget..” (saat itu kami belum sadar keindahan apa yang menanti kami di ujung sana).

Keluar dari perbukitan itu, kami tiba di Kiara Dua, suasananya sudah seperti sebuah kota kecil umumnya, sudah tidak ada lagi pemandangan alam yang indah. Dari kiara dua, kami melintasi Jampang Kulon, dan setelah itu tibalah kami di sebuah kota(kecamatan) bernama Surade. Surade merupakan kecamatan terakhir sebelum Ujung Genteng yang bisa dibilang terdapat peradaban modern.. maksudnya setidaknya itulah kota terakhir tersedianya pom bensin 24 jam serta mini market (indomart, alfamart) . Di kota itu, kami berhenti sebentar di sebuah pom bensin, bukan untuk mengisi sesuatu, tetapi untuk membuang sesuatu (ada yang pingin kencing), saat itu sebagian dari kami masih tertidur di dalam mobil.

Jarak Surade ke Ujung Genteng kira-kira sekitar 20-25km, tetapi karena jalannya sepi dan bagus, kira-kira hanya butuh waktu sekitar 20menit untuk sampai ke pintu masuk kawasan ujung genteng. Begitu melewati gerbang retribusi, 5 menit kemudian dengan kecepatan tinggi kamu sudah menemui sebuah pantai, sebuah pantai kecil dengan dermaga tua yang tampaknya sudah tidak digunakan lagi. Beruntung saat itu jalanan basah dan langit sudah cerah (artinya sebelumnya hujan, dan waktu kami tiba hujan sudah berhenti). Tetapi kami ga berhenti di pantai itu, kami terus menyusuri jalan utama (jalan aspal) hingga menemui sebuah kawasan pasar ikan. Setelah berhenti sejenak, kami memutuskan untuk kembali ke pantai yang tadi. Begitu sampai di pantai itu, kami ga jadi turun, karena melihat di sebelah utara pantai itu terdapat pantai yang lebih menarik.. Utara? Yup.. meski Uung Genteng merupakan kawasan pantai selatan, tapi kota tersebut memiliki bentuk yang unik, sehingga terdapat pantai yang menghadap timur, selatan, dan barat, dan kebetulan kami berada di kawasan pantai barat.

img_2489 img_2509 img_2512

Akhirnya kami memutuskan untuk singgah di sebuah pantai yang biasa disebut pantai sunset (karena menghadap barat sehingga bisa melihat sunset dengan jelas). Pantainya begitu tenang, ombaknya sangat kecil (bisa dibilang ga ada ombak, mungkin karena terdapat banyak karang di pinggir pantai). Disekitarnya terdapat beberapa perahu nelayan yang diparkin, yang menarik.. suasananya ga begitu ramai, dan tentu saja masih cukup bersih, sehingga enak untuk dinikmati. Tentu saja suasana itu begitu menggoda, hinga membuat Wawan tak tahan diri untuk melepas baju dan menceburkan diri di hangatnya air laut yang tenang bersama karang-karang yang menghiasi pantai, bahkan perut yang tampak buncit pun tidak membuatnya mundur untuk berenang kesana kemari menikmati pantai yang tenang itu.

img_2523 img_2519

Setelah hari semakin siang, kamipun memutuskan untuk mencari penginapan. Sebenarnya persis di depan pantai itu terdapat sebuah pondokan, namanya pondok Adi. Tetapi kami merasa belum puas kalau belum melakukan survei di tempat lainnya, akhirnya kami bertiga (Aku, Tiko, dan Maya) berangkat melakukan survei tempat penginapan yang lainnya, sedangkan yang lainnya menunggu di pantai. Salah satu yang menarik (bagi yang suka petualangan) dari kawasan ini adalah bahwa untuk mencapai sebagian besar tempat wisatanya, kita harus menempuh jalan yang tidak beraspal, bahkan diantaranya memerlukan kendaraan khusus untuk mencapainya (offroad, ATV, atau motor).

img_2517 img_2518

Meski hanya berbekal avanza yang tidak dirancang untuk offroad, kamipun dengan yakin menyusuri jalanan berbatu dan berkerikil untuk mencari tempat penginapan, bahkan diantaranya kami harus melwati semacam sungai kecil selama perjalanan itu. Setelah merasa cukup jauh, dan jalanan udah mulai sangat tidak kondusif bagi mobil, kamipun memutuskan untuk kembali tanpa ada hasil yang memuaskan. Akhirnya, kami hanya bisa membandingkan beberapa penginapan dekat pantai sunset , dan berdasarkan pertimbangan antara kondisi tempat , tim, dan harga, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Pondok Adi. Dengan uang 350ribu rupiah, kami mendapat semacam paviliun berisi dua kamar dengan sebuah ruang tamu, kamar mandi yang bersih, dan sebuah beranda luas yang dilengkapi dua buah tempat santai (tempat seperti di pinggir kolam renang tapi terbuat dari kayu besar) untuk 7 orang (tentu saja 1 kamar dikuasai penuh oleh 1 orang)

Menikmati suasana pantai memang sangat menyenangkan, apalagi jika hari masih pagi, matahari yang hangat, angin sepoi-sepoi, tempat duduk yang nyaman, ditemani makanan kecil, rokok , serta obrolan ringan. Tetapi kami tidak bisa terus terlarut dalam suasana itu, waktu kami tidak banyak disana, hanya tersisa sehari semalam. Setelah berdiskusi dan mengumpulkan informasi, kami akhirnya memutuskan rute wisata yang akan ditempuh. Siang itu kami berencana mengunjungi salah satu air terjun yang paling bagus, diteruskan menyusuri goa (yang konon tempatnya ga jauh dari air terjunnya), menghabiskan sore di pantai sunset, dan mengunjungi para penyu hijau yang singgah untuk bertelur.

Setelah selesai makan siang, kami langsung menuju ke tempat sasaran, namanya Curug Cikaso, alias Air Terjun Cikaso. Cikaso sebenernya merupakan nama daerah, kalo ga salah Desa letak keberadaan air terjun tsb, tempatnya lumayan jauh dari tempat kami menginap, sekitar 30 menit. Berbekal informasi dari penjual bakso yang kami singgahi, kami langsung meluncur.. namun ditengah-tengah perjalanan kami curiga kalau petunjuk yang tadi diberikan adalah salah, bahkan berbekal GPS pun tidak menjamin ga bakalan tersesat. Akhirnya, dengan peta mulut (tanya sana-sini), tibalah kami di desa Cikaso, setelah melewati jalanan berbatuan dan portal retribusi ga resmi, sampailah kami di tempat parkir curug cikaso (sebenernya juga cuman lahan kosong di pinggir sungai)

img_2535 img_2537 img_2538

Ternyata sesampainya di sana, curug cikaso tidak bisa langsung diakses, dibutuhkan sebuah kendaraan transisi berupa perahu motor.. yup, sebelum mencapai air terjun, kami harus mengarungi sungai yang cukup besar (sebenernya kalo menurut perkiraanku, dengan sedikit tracking di pinggir sungaipun bisa mencapai lokasi), tapi justru hal tsb yang membuat wisata ini makin menarik. Tetapi memang pengalaman itu harus dibayar dengan harga tidak murah, sepaket perjalanan (balak-balik plus ditunggu main di curug sepuasnya) ditawarkan dengan harga 80ribu per kapal + 2 ribu per orang, dan tampaknya hal tersebut sudah menjadi standar di tempat tersebut.Di pinggir sungai, terdapat beberapa perahu motor yang menunggu, kami pun menaiki salah satunya, kami pun melaju mengarungi sungai yang lebarnya kira-kira mencapai 100 meter, airnya coklat , dan di kanan kirinya merupakan pepohonan lebat tampak bukit. Tidak lama mengarungi sungai, tibalah di semacam percabangan sungai, kami mengambil cabang yang kecil, airnya lebih tenang dan berwarna hijau, pepohonan di kanan kirinya juga tampak lebih lebat, kami juga sempat berpapasan oleh rombongan yang pulang dari mengunjungi air terjun, selang beberapa menit kamipun sudah tiba di tempat pemberhentian.

img_2541 img_2542

img_2544 img_2545

Tak sampai 5 menit berjalan kaki, kami sudah sampai di lokasi air terjun. Pertama kali melihatnya.. WoW… Subhanallah.. Cool man.. Tiga buah air terjun yang besar sekaligus berada dalam satu lokasi.. benar-benar sangat indah dan menakjubkan, apalagi saat itu langit begitu cerah dan biru. Menariknya.. tempatnya ga begitu rame.. memang sih waktu itu ada beberapa rombongan yang juga mengunjungi air terjun, namun kebanyakan ga terlalu lama berada di tempat, mungkin karena waktu, atau mungkin karena sudah merasa basah (angin yang besar menerpa air yang jatuh sehingga membuat basah sekitarnya, kayak gerimis tapi horizontal). Cukup lama kami menghabiskan waktu di tempat itu, maklum.. udah jauh2 dan susah2 sampai situ masak cuman sebentar, pokoknya kami main air dan motret2 sampai puas, hingga tempat itu sepi tinggal rombongan kami, pemandu perahu yang bertugas menunggu kami, dan sepasang muda-mudi yang kayaknya lagi nyari tempat buat mojok..he..he..

img_2550 img_2552 img_2554

img_2570 img_2584 img_2598

img_2558 img_2583

img_2612 img_2590 img_2610

Setelah baju mulai basah, dan memori kamera mulai penuh dengan foto-foto narsis, kamipun memutuskan untuk mengakhiri kunjungan di curug cikaso untuk melanjutkan wisata ke goa tak jauh dari desa Cikaso. Tentu saja untuk kembali ke tempat parkir, kami harus menempuh perjalanan air dengan perahu motor kembali.. hmm.. bila diingat-ingat.. rasanya sangat menyenangkan, angin yang berhembus.. pemandangan kanan kiri sungai yang indah.. dan suasana yang.. serasa kayak di foto-foto national geographic (berasa menyusuri sungai amazon dengan membayangkan buaya-buaya dan piranha yang melintas)

img_2662 img_2663

img_2670 img_2669


About this entry